Lifetime Achievement unlocked: Sigur Rós

It’s been a dream come true witnessing their beautiful music come to this world. This is a band I always hoped to see, but never thought I would have the chance. Yeah, you know. Living in Indonesia, I knew that to see an Icelandic band was like a forever-dream. It will never happen. But G-d is there. Friday, 10th May that dream come true. Not perfectly like I’m always dreaming. Seeing them underneath stars and fog floating above. But Istora Senayan quite good. 
taken from @sigurrosid
—taken from @sigurrosid—
I first heard them since graduated from high school. Starálfur was my first. Frankly, at first I wasn’t into their icelandic kind of music. They sounded depressing. Till I had a huge breakdown and started listening to Ágætis Byrjun. Since, they seems different. I thought wrong, their music wasn’t depressing but uplifting.
Years went by and I started learning Icelandic language. I started learning their lyrics. Ever since I remember and know what the lyrics meant, now I could feel it. Who doesn’t feel happy listening to Gobbledigook? Or you want something that’s shooting-restful-calming? Then try Njósnavélin. 
So it was around 7 PM, it was so cold that even boyfie holding hand still did’nt help me get warm. The weather was just not on positive and it started to rain. The queue was long. It took almost one hour to get inside. But happiness.
taken from @sigurrosid
—taken from @fluxandplay—
It went pitched dark towards the intro as Jónsi worked his bow on his guitar. Then I don’t know I will ever be impressed by any other concert after seeing them. Sigur Rós was as amazing as expected. The lights and visuals were very impressive. The sound was good and stimulating ears. I entranced by the live Sigur Rós show puts on. Eventhough they’re not played my favorite songs, but seeing your-favorite-band and a big bear hug from your-favorite-man? Nothing else mattered.
The enchanting almost two hours set went by so fast. I’m not even saying this as a Sigur Rós fan, but as a human being. It was more than a concert. It was a spiritual journey in the language of music where everyone could understand even have no clue what the lyrics meant. And they ended the happiness set with PoppalagiðThat night I died a little for happiness. 
Takk fyrir frábært magical concert! Sjáumst aftur á næsta ári! Amen~
taken by boyfie
—taken by boyfie—
1 year ago
0 notes

America Greatest Country?

Jenny :Can you say why America is the greatest country in the world?
Will :... Well Sharon and Lewis say it diversity and opportunity and freedom and freedom... It's not the greatest country in the world, Professor. That's my answer... You know why people don't like liberals? Because they lose. If liberals are so fuckin' smart, how come they lose so goddamn always? And with a straight face you're gonna tell students that America is so star-spangled awesome that we're the only ones in the world who have freedom? Canada has freedom. Japan has freedom. The U.K., France, Italy, Germany, Spain, Australia. Belgium has freedom! 207 sovereign states in the world, like 180 of them have freedom... And there is absolutely no evidence to support the statement that we're the greatest country in the world. We're 7th in literacy. 27th in Math. 22nd in science. 49th in life expectancy. 178th in infant mortality. 3rd in median household income. Number four in labor force and number four in exports. We lead the world in only three categories: number of incarcerated citizens per capita, number of adults who believe angels are real, and defense spending where we spend more than the next 26 countries combined, 25 of whom are allies. Now, none of this is the faults of a 20-year-old-college student, but you nonetheless are without a doubt a member of the worst period generation period ever period. So when you ask what makes us the greatest country in the world, I don't know what the fuck you're talking about. Yosemite?
1 year ago
1 note

Hari Milik Hati

Hari ini usiamu bertambah

Setahun lebih tua dari sebelumnya

Kamu, aku, dan kita semua semakin menua saja hari demi hari

Meski beberapa helai ubanmu mulai terlihat

Garis-garis keriput di wajahmu kian nampak

Saya, tetaplah gadis kecil kesayanganmu

Yang masih kamu suapi walau usianya sudah menapaki dua puluh satu

Yang masih membebanimu dengan banyak sekali mau

Yang kamu khawatirkan setiap hari dengan banyak pesan pendek dan dering telepon

Yang satu dari beberapanya saya bilang menyebalkan

Yang satu dari beberapanya jarang mendapat balasan perhatian sepadan

Kamu tahu, pagi ini mata saya hangat karenamu

Saya rindu masakan buatanmu

Yang kamu buat dengan sebelumnya bertanya saya ingin makan apa hari ini

Saya rindu hangat telapakmu

Yang diam-diam membelai kening saya tiap tertidur saat pulang ke rumah

Saya bahkan rindu mendengar omelanmu

Yang celakanya hanya selewat di telinga saya

Maaf,

Saya belum mampu menjadi kebanggaan

Untuk perbuatan yang tidak mengenakan dan banyak kesalahan

Saya belum bisa dan mungkin tak akan kuasa membalas jasamu

Untuk setiap doa, tenaga, dan waktu

Saya belum sanggup dan tak mungkin menutup

Untuk tiap-tiap darimu yang saya tahu bahkan tak tersebut

Terima kasih,

Karena membiarkan saya tinggal di rahimmu sembilan bulan lamanya

Muara kehidupan dunia fana

Darinya saya lahir tanpa apa-apa

Dengan bantuanmu yang penuh usaha dan segala upaya

Menjadikan saya tahu semua dan bisa berguna

Semoga kelak bisa membuatmu bangga

Terima kasih,

Karena membesarkan saya dalam kasih dan sayang yang tak ada batasnya

Terima kasih, Ibu

1 year ago
1 note

Selimut

Ada satu selimut yang tak pernah dicuci hingga debu menutup
penuh bau keringat yang lembut
membawa lelap tiap malam menjemput
sampai akhirnya keadaan menuntut
menggantungnya pada kawat di atas perut

1 year ago
0 notes

Bersyukur Itu Mudah

I wanna talk about your simple things

the shoes you bought the clothes you wear

I wanna talk about your happiness

the things you eat the things you waste

Suatu pagi…

Ada yang terbangun oleh kerasnya bunyi jam weker. Suara pembantu yang menggedor pintu kamar turut menjadi alarm tambahan. Reminder di ponsel mengingatkan hari telah berganti disertai sederet kegiatan yang harus dilalui. Dimulai dengan rapat bersama klien ini dan ditutup pertemuan dengan kolega itu.

Pagi begitu dibenci sebagian orang. Pemanas air tak mampu menghilangkan dinginnya udara pagi. Kemeja berharga jutaan rupiah tak bisa memperbaiki suasana hati. Dan sarapan yang terhidang di meja makan menjadi sia-sia karena si selera sedang entah kemana.

So let me take you to the other side

see what you have been missing

about the people that you’ll never hear

about the men that were never there

Pagi itu, di atas tanah yang tak jauh berbeda, di bawah langit yang sama…

Ada manusia lain yang terbangun karena suara pasangan suami istri yang saling berteriak. Perumahan kumuh yang hanya disekat oleh triplek jelas menjadi penghantar baik gema pertengkarannya. Gedoran di pintu oleh pemilik kontrakan rumah adalah pengingat bahwa hari pembayaran cicilan sewa semakin dekat. Tumpukan koran pagi ini menjadi penanda perusahaan mana yang harus didatangi untuk menguji nasib sepanjang hari.

Sebagian orang begitu mencintai pagi. Meski harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai di tempat mandi. Karena rumah sendiri hanyalah sepetak kamar dan air untuk membersihkan diri pun harus berbagi. Kemeja dengan beberapa jahitan di ujung lengan menjadi satu-satunya layak pakai dibanding sisa pakaian lain yang sudah lusuh dimakan waktu. Ditemani sepotong pisang goreng hangat buatan ibu yang juga akan dijualnya di pasar, hari terasa begitu syahdu.

O, nobody’s hears them complaining

Bout the hours that they spent

no money to pay rent

O, You’re dancing with those fancy shoes

while their working overtime, can’t even buy your laces

Sore itu,

Beberapa orang sedang mengeluhkan macetnya jam pulang kantor dalam mobil pribadi. AC mobil tak bisa mendinginkan panasnya emosi. Sang supir yang mengendarai mobil akhirnya menjadi pelampiasan kekesalan diri.

Sebagian lainnya tengah mengusap peluh atas map lamaran yang ditolak sekian kali. Berdiri berhimpitan berdesakkan dengan manusia lain dalam metromini. Meski rezeki belum mau berkenalan hari ini, bisa bernapas hingga malam menemui, patut disyukuri.

A dollar a day to feed a family

and sir blair said its not poverty

and most of you don’t even care

you see them and they’re not even there

Malam itu,

Sebagian orang ada yang berusaha tidur untuk menahan lapar. Hingga lelap mendengkur walau terkena rembesan hujan dari atap kamar yang bocor. Sebagian lainnya menggerutu karena menu makanan tidak sesuai pesanan. Lalu pergi tidur dengan si hati kecil bertanya “kapan mau belajar bersyukur?”

They’re ghost in the woods, zombies in the factory

phantoms from your past, undead under your bed

If You keep, closing eyes and ears

You’ll be a beast, with no worries

Bersyukur? Bersyukur terlihat begitu sulit dikerjakan. Apalagi oleh manusia yang memang kodratnya senang mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Ya kurang ini, ya kurang itu, ada saja kurangnya hingga kita belum saatnya untuk bersyukur. Untuk mengucap terima kasih dan berhenti mengeluh.

Sebenarnya seberapa banyak hal yang dimiliki tidak menjadi faktor yang memudahkan bersyukur. Karena toh seperti disebutkan sebelumnya, kita-manusia, suka sekali mencari kekurangan hingga bersyukur tepatnya dilakukan belakangan. Patokannya bukan dari hal-hal yang menempeli diri, tapi dari kemampuan si hati. Bagaimana kemampuannya untuk bisa rendah hati atas segala yang dipunyai dan mampu berbesar hati untuk semua yang tak mampu dimiliki.

Bersyukur itu mudah. Selama kita mau sebentar melihat ke bawah dan menyadari ada yang lebih rendah. Selama kita mau sejenak menengok ke samping kiri kanan dan menyadari ada yang masih serba kekurangan. Selama kita mau mendongak ke atas dan mengucap syukur atas nasib yang begitu mujur.

PS : Tulisan ini terinspirasi dan bentuk apresiasi atas lagu Simple Things oleh @Wonderbra_band .

1 year ago
0 notes

Terbiasa Berbahasa

"Kenapa ya acara ‘Who Wants To Be A Millionaire?’ judul acaranya nginggris?”

"Ya karena acaranya diadaptasi dari luar kan"

"Iya, dan juga diadaptasi lebih dari 50 negara lain selain Inggris sendiri, negara asal acara ini dibuat. Tapi ya, cuma Indonesia lho, negara yang bukan bahasa resminya Inggris tapi nginggris-ria dengan judulnya. Negara lain gunain bahasanya sendiri untuk judul acaranya. Perancis dengan ‘Qui Veut Gagner des Millions?’, German dengan ‘Wer wird Millionär?’ dan masih banyak negara lainnya yang ‘hanya mengadaptasi acara’ ini dari Inggris tapi gunain bahasa sendiri untuk namanya. Jadi, kenapa negara ini justru nginggris?

Pembicaraan sekilas ini terjadi saat saya duduk di bangku tingkat akhir perkuliahan sebagai mahasiswi jurusan Komunikasi. Saya dan teman saya waktu itu mencapai kata sepakat ‘biar keren’ sebagai hasilnya. Iya, biar terlihat lebih ‘wah’, ‘berkelas’, ‘hebat’, hal-hal yang memang menempeli penggunaan bahasa asing nomor satu ini.

Kemudian, setelah saya lulus dan bekerja terjun menjadi peramu ide dan penggagas acara, saya menemukan jawabannya. Salah satu siang saat brainstorming penentuan teknis acara, saya, rekan kerja dan atasan kebingungan menentukan nama acara yang kami buat. Dua jam lebih kami berembuk mencari nama yang pas.

"Kenapa acaranya mesti bahasa Inggris sih? Kenapa ga bahasa Indonesia aja? Kan konten acaranya bahasa Indonesia, untuk orang Indonesia dan ditayangin di Indonesia juga"

"Yang mau beli siapa Gent kalau kita pasang judul bahasa Indonesia? Sponsor mana yang tertarik"

Nah! Inilah hasil budaya barat yang menggerus otak-otak kecil kita begitu cepatnya. Apa-apa yang dibawa pihak luar terlihat jauh mempunyai nilai lebih. Siang itu saya dan atasan sempat berdebat kecil, karena saya dan tingkat keidealisan yang membatu ini ngotot untuk menggunakan bahasa ibu pertiwi. Sedangkan si pak bos yang berpengalaman lebih paham keadaan lapang yang sebenarnya.

Dengan alasan akan lebih menjual, menarik sponsor, dan mengundang ketertarikan khalayak, nama acaranya dibuat nginggris. Begitu seterusnya lingkaran budaya kebarat-baratan di mana kita ingin dicap ‘lebih’.

"Ah jangan sok komentar bahasa, kamu juga lebih suka nginggris toh dibanding berbahasa Indonesia yang baik”

Naah! Itu dia, saya pun termasuk di dalamnya. Termasuk ke dalam tipe manusia yang suka bercasciscus bahasa Inggris. Termasuk ke dalam tipe manusia yang terseret arus budaya yang tanpa sadar telah membuat kita kagum pada hal berbau kebarat-baratan. Termasuk ke dalam tipe manusia yang merasa ‘ketinggalan zaman’ bila tidak bisa lancar ikut ngomong nginggris, tapi biasa saja saat salah dalam ejaan bahasa Indonesia, bahasa sendiri.

Lebih sering malu saat typo berbahasa asing. Lalu menganggap tak masalah saat mengetik ejaan bahasa Indonesia salah. Mari ambil contoh, ‘di mana’, yang sepertinya menjadi si korban perkosaan kesalahan ejaan ini akhirnya manut saja. Akhirnya si ‘dimana’ menjadi lebih terkenal karena sering tampil. Lupakan saja mana yang betul, bukan perkara. Orang-orang telah nyaman membiasakan diri pada hal yang menjadi kebiasaan, meski salah. Ketika semua orang melakukan hal yang serupa, hal itu akan menjadi biasa dan mengenai benar atau salah bukan lagi menjadi perkara.

Lambat laun, hal-hal sepele ini membuat kita lupa akan kaidah berbahasa Indonesia, tapi paham betul tenses yang ngejelimet aturannya. Bingung saat mendengar kata dalam bahasa Indonesia yang terdengar asing, tapi akrab dengan bahasa asing.

Ya sudahlah. Toh, memang manusia kembali pada hukum alamnya ingin terlihat ‘lebih’. Mungkin perangkat bahasa asing ini hanya satu dari sekian pakaian yang mampu menambah nilai penampilan. Mungkin.

PS :

"Jadi, dimana kita harusnya merubah kebiasaan ini!"

Bagi yang bilang tulisan saya ini terlalu berlebihan, silahkan temukan empat kesalahan dalam tata bahasa kalimat yang saya digunakan di atas. Kalau berhasil, selamat.

Hmm. Terakhir, ‘millionaire’ itu artinya jutawan lho. Jadi sepertinya lebih cocok ‘Who Wants To Be A Billionaire’, toh hadiah yang ditawarkan milyaran. ;)

1 year ago
0 notes

Hiburan Jalanan

Sang supir memarkir busnya sembarang. Lantas seakan dikomandoi dengan serempak calon-calon penumpang sigap bergerak mundur ke tepi jalan. Tergopoh-gopoh aku naik ke dalam bus.

“Masih kosong. Ya digeser ya geser. Kosong, kosong di belakang masih ada kursi”, ujar sang kernet. Yang kutebak masih dalam pengaruh arak ketan hitam semalam hingga berhalusinasi bus masih kosong. Penumpang di dalamnya berdiri berdesakan mencari celah ternyamannya. Kosong otakmu, umpatku dalam hati.

Aku beruntung mendapat tempat duduk sementara yang lain masih sibuk mencari kursi kosong mana yang dimaksud si kernet. Sepuluh menit kemudian bus bergerak maju. Tak berapa lama dari roda-roda bus menciumi badan jalan, drama dimulai.

Dia aktor pertama yang tampil. Perkenalkan, lelaki muda dengan peci putih di kepala dan baju koko kumal di badan. Dengan bacaan Al-Quran sebagai pembuka, ia memperkenalkan diri. Katanya, ia adalah pengurus Yayasan Panti Asuhan di kota pinggiran Jawa Barat. Yang datang jauh-jauh dari desa untuk mencari dana tambahan bagi kelangsungan pendidikan para anak yatim piatu di yayasan tersebut. Untuk itu ia membagikan para penumpang satu-satu amplop dengan stempel dan foto yayasan yang dimaksud. Amplop yang bisa kami isi dengan rezeki yang kami dapat, yang menurutnya ada hak para anak yatim didalamnya.

Ia berkata para anak yatim di yayasan sedang butuh dana untuk membayar uang sekolah dan segala perintilan biaya pendidikan lainnya. Dan bila kami tidak berbesar hati menyisihkan hak yang seharusnya milik mereka dari uang di dompet kami, para anak yatim akan kesulitan melanjutkan sekolahnya. Dengan terus diiringi ayat suci Al-Quran lelaki muda itu mengingatkan kami kembali pada pelajaran Agama sewaktu sekolah dasar. Bahwa surga akan menjadi imbalan bagi para hamba Tuhan yang bermurah hati. Bahwa rezeki akan berlimpat ganda bila mau berbagi.

Kumasukan uang seribu Rupiah ke dalam amplop tersebut. Lelaki muda mengucapkan puja-puji Tuhan berdoa untukku. Entah untuk kemurahan hatiku yang bersimpati pada nasib para anak yatim. Atau pada kepolosanku bahwa membuat amplop dengan foto yayasan dan stempel palsu itu mudah dilakukan. Bahwa Jawa Barat begitu besarnya hingga aku mungkin tidak punya waktu untuk mengecek kebenaran keberadaan desa entah berantah tempat yayasan berdiri. Bahwa yayasan itu hanya terdaftar di wilayah administratif akal bulus si lelaki muda berpeci.

Tak lama kemudian lelaki muda berpeci turun. Dengan segepok amplop berisi rezeki kami, yang didalamnya terdapat hak para anak yatim. Yang bisa ia gunakan untuk makan enak malam ini. Yang bisa ia pakai untuk biaya kelangsungan hidupnya beberapa hari ke depan mencari hamba Tuhan bodoh lainnya.

Aktor kedua naik panggung, sebuah bus penuh berisi orang-orang yang terus mengusap peluh. Seorang anak lelaki kecil usia belasan dengan baju partai gratis kebesaran dan celana sekolah yang kekecilan. Ia berjalan ke tengah bus dengan mengangkat kaki kanannya tergopoh. Ada balutan kain di kaki kanannya. Ia bilang itu adalah luka akibat tabrak lari tempo hari sepulang mengamen.

Dengan uang seadanya yang hanya mampu membayar mantri Puskesmas tak mampu menyembuhkan lukanya cepat. Untuk itu ia meminta pertolongan kami. Seribu dua ribu untuk kembali ke sang mantri dan periksa kembali. Selembar dua lembar Rupiah tak seberapa bagi kami yang besar artinya bagi luka tersebut.

Sesekali anak kecil itu meringis kesakitan sambil berjalan tergopoh tanpa lelah bolak-balik dalam bus. Menceritakan kronologis tabrak lari yang dialaminya. Betapa sang motor yang menabraknya tak memberi ganti rugi. Betapa ia kesulitan mencari uang karena lukanya dan tak makan berhari-hari. Dan bila kami tidak memberi bantuan ia akan makin sulit menahan nyeri.

Kumasukan seribu Rupiah dalam bungkus berkas permen yang disodorkannya dari satu bangku ke bangku lain. Anak kecil itu tersenyum riang. Entah bahagia mendapat uang untuk membeli obat lukanya. Atau senang melihat ada perempuan lugu yang percaya eksperimen akal-akalannya dengan balutan kain berisi tape busuk dan obat merah. Bahwa akting meringis dan jalan tergopoh berhasil diapresiasi dengan lembaran Rupiah dan beberapa keping uang logam.

Anak kecil itu mengucap terima kasih sekali lagi sebelum turun bus. Kulihat ia berlari dengan lancar seturunnya dari bus. Bersyukur aku dalam hati. Bahwa uang seribuku telah menolongnya begitu cepat. Bahkan sebelum menemui mantri ia sudah bisa berlari tanpa tergopoh lagi.

Bus terus melaju menjemput aktor-aktor jalanan berbakat lain. Aktor ketiga dijemput di pintu keluar tol, siap tampil dengan sandiwara terbaiknya. Seorang wanita setengah baya dengan bayi dalam dekapannya. Dengan jilbab menutup kepala dan kebaya longgar menutup badannya.

Ia mulai dramanya dengan sedikit berdeham meminta perhatian para penonton. Katanya, bayi mungil dalam dekapannya adalah anak keempatnya yang belum genap setengah tahun. Ketiga anak terdahulunya, semua masih kecil dan butuh makan. Suaminya adalah tukang becak yang kini lebih banyak di rumah karena becaknya rusak dan belum ada uang untuk memperbaiki.

Karenanya ia butuh belas kasih kami.  Katanya bila kami tak menolong ia tak mungkin bisa membeli susu untuk si bayi. Ia tak mungkin sanggup membayar uang sekolah anak tertuanya yang sudah tiga bulan menunggak. Ia tak mungkin mampu menutupi hutang-hutang di tetangga demi sekedar membuat asap di dapurnya tetap mengebul.

Kumasukan lagi uang seribu Rupiah ke dalam kaleng bekas susu miliknya. Ia mengucap terima kasih. Entah karena aku membantu meringankan beban ekonominya. Atau karena telah menghargai tipu dayanya siang ini. Bahwa bayi yang digendongnya adalah bayi sewaan seharga 10 Ribu perjam itu telah membantunya mendulang uang berkali lipat. Bahwa tak ada suami tukang becak atau tiga anak lain yang butuh makan. Bahwa uangnya adalah untuk patungan kontrakan, sebuah gubuk yang diisi empat perempuan lain yang menjadi ‘ibu’ si bayi bergantian tiap harinya.

Seturunnya wanita itu bus pun masuk pintu tol dan berakhirlah drama siang ini. Dengan uang tiga ribu Rupiah aku berhasil dihibur dengan penampilan aktor-aktor jalanan. Dengan hanya berbekal beberapa lembar uang kembalian membeli minuman botol aku berharap Tuhan mau menggantinya dengan setumpuk pahala dan surga yang dijanjikan-Nya. Dengan membayar akting para penipu amal aku berharap Tuhan turut membayarku untuk belas kasihku pada umat-Nya yang lain.

1 year ago
0 notes

Stasiun

“Baik-baik ya”
Begitu ucapmu sesaat sebelum kereta mencumbui rel hingga bingar tak terelakkan
Sementara basah lidahmu masih menyisakan baunya di langit mulutku
Kita adalah sepasang kaki yang dipertemukan dalam banyak ketidaksengajaan
Dalam rencana Tuhan yang disengajakan
Dan peron-peron ini serupa sepatu tempat telapak-telapak kita berpijak
Di Bogor, serta derai rinainya yang membuatmu kuyup hanya untuk membunuh rindu
Di Jakarta, dengan dinginnya malam dan ego masing-masing kita yang menerkam bisu
Di Depok, bersama beberapa hujatku agar Tuhan memperlambat waktu
Kereta kita sekarang sudah memiliki tiga gerbong
Tiap-tiapnya untuk satu putaran matahari pada bumi yang sanggup kita kalahkan
Walau panas dan gersangnya memaksa berhenti bertahan
Disampingmu, pijakku menemui jalannya
Langkah-langkah yang tertuntun pulang
Dan aku rela menghabiskan senja di sana
Menikmati beberapa potong kue dan secangkir teh
Ditemani gema nyanyian rel menderu
Bersama ekor kereta yang hilang dilahap horizon satu persatu
Pada… kamu

1 year ago
1 note

Panggilan Hati

Kring… Kring… Kring… Kring…

“Dia lagi dia lagi” kutaruh ponsel di bawah bantal, supaya suara deringnya teredam.

Kring… Kring…

“Err maunya apa sih. Ganggu terus” walau kesal pun aku raih ponsel dengan malas-malasan.

“Apa?” tanyaku sedikit membentak.

“Kok lama angkat telponnya?” tanyanya lembut.

“Sibuk. Banyak kerjaan. Kalau ga ada yang penting udah ya”

“Kamu…” suaranya yang belum selesai terpaksa terputus olehku yang mengakhiri panggilan telpon.

***

Kring… Kring… Kring… Kring…

“Assalamualaikum”

“Walaikum salam” jawabku singkat.

“Udah di kost?”

“Udah” jawabku masih sekenanya.

“Syukurlah. Udah makan?” tanyanya tetap lembut.

“Belum… Uhuk… Uhuk” suara batukku keluar setelah kutahan begitu keras selama menerima telpon darinya.

“Kamu batuk? Udah minum obat? Dari kapan? Masih sakit?”

Ah. Sesuai dugaan. Ia akan menjejaliku dengan rentetan pertanyaan.

“Cuma batuk biasa. Nanti juga sembuh”

“Jangan disepelein gitu ah. Kamu masih ngerokok? Ga baik buat asmamu”

“… Ga kok. Udah ya, aku mau istirahat” segera kuputus panggilan, lagi-lagi sebelum ia mengakhiri pembicaraan. Kutaruh ponsel di meja bersamaan dengan habisnya batang rokok keempat yang kuhisap dengan segelas kopi sedari malam menjemput.

***

Kring… Kring…

Kulihat jam dinding, pukul 4 lewat 23 pagi. Sinting. Sepagi ini dia sudah menggangguku.

“Iya apa?” tanyaku malas.

“Kamu udah bangun? Jangan lupa salat subuh ya”

Klik. Kembali kuputus sambungan teleponnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Ada saja alasan untuknya menggangguku. Salat? Ah. Tubuhku lebih butuh tidur saat ini.

***

Kring… Kring…

Maunya apa sih. Selalu saja menelponku. Memangnya dia kira aku ini tidak punya pekerjaan selain meladeni telponnya yang mengganggu itu. Berkas monthly report yang harus aku selesaikan hari ini saja sudah cukup membuat kepalaku ingin meledak. Lalu masih ditambah telpon darinya. Err.

“Kenapa sih telpon terus? Aku tuh sibuk. Kan udah dibilang kalau ga ada yang penting ga usah telpon. Ganggu” akhirnya tumpah semua kekesalanku.

“Iya, tapi kan cuma ingin tahu kabar kamu” suaranya tetap lembut seperti biasa.

“Iya tapi ga usah telpon terus-terusan dong. Ada apa sih?” suaraku mulai meninggi.

“Yaudah. Cuma mau ingetin, jangan lupa makan siang. Assalamualaikum” terdengar suaranya lirih. Ada kekecewaan atas penolakanku kali ini.

Kulirik jam tanganku, hampir setengah dua. Dia benar. Sedari tadi pagi aku belum sempat makan apapun. Tumpukan berkas ini menyita semua fokusku. Pelan kupanggil office boy “Titip makan ya, yang biasa” sambil menyelipkan selembar lima puluh ribu ke tangannya.

***

Hari ini jadwalku padat sekali. Monthly report yang kukerjakan hingga lembur akan kupersentasikan depan para big boss. Semua sudah kupersiapkan dengan sebaik mungkin. Pak Chandra, atasanku, minggu lalu ia bilang akan memberiku promosi bila aku bisa membuat para big boss itu terkesan dengan persentasi kali ini. Kurapihkan semua berkas, kucek lagi file persentasi dan data yang berkaitan, semua selesai. Sempurna.

“Nda, ayo” panggil Rudi rekan kerjaku.

“Oke”

Kring… Kring…

Kring… Kring…

Ah telpon dari dia lagi. Paling juga hanya bertanya hal-hal kurang penting seperti biasa. Kulihat layar ponsel dan namanya sebagai pemanggil di situ, ada foto kami berdua yang diambil tahun lalu saat berlibur di Bandung.

“Nda! Ayo Wanda cepat. Rapatnya mau dimulai”

“Ah iya iya” aku berlari kecil ke arah Rudi. Rapat ini lebih penting. Untuk karirku, untuk masa depan, untuk hal-hal yang kuimpikan sedari masuk di perusahaan ini. Promosi itu harus aku dapatkan. Persetan dengan telpon darinya. Paling sejam lagi juga dia akan menelponku.

***

“Kamu hebat! Tadi persentasi terbaik yang pernah aku lihat selama kerja di sini”

“Iya, Nda. Kamu hebat”

Pujian dari rekan kerjaku terus saja berdatangan. Mereka bilang persentasiku sangat baik. Terbayar sudah kerja kerasku tidak tidur berhari-hari mengerjakan laporan tersebut.

Kring… Kring…

Tuh kan. Ia akan menelponku lagi.

“Ya halo”

“Kakak dari mana aja sih? Kenapa baru angkat” terdengar suara panik adikku diujung telpon.

“Kenapa Dira?”

“Ibu, Kak. Ibu..” suara tangisnya meledak dan seketika tubuhku lemas. Aku tahu ada hal buruk yang telah terjadi.

***

Kupacu mobil sekencang mungkin. Tapi kemacetan ibukota menahanku tak bergerak. Pikiranku kacau.

“Ibu kena serangan jantung. Sekarang masih kritis di rumah sakit. Kakak pulang ya”

Kepalaku penuh dengan bayangan ibuku. Perempuan hebat yang membesarkanku dan adikku seorang diri, karena Ayah yang seorang penjudi mati diamuk massa saat ketahuan hendak mencuri di rumah tetangga. Perempuan hebat yang bekerja sebagai tukang sayur dan buruh cuci demi menghidupi anak-anaknya. Perempuan hebat yang tak pernah sedikit pun mengeluh meski banyak caci maki tetangga kami terima karena Ayah. Perempuan hebat yang tidak henti mendoakanku hingga aku sesukses sekarang. Lalu aku lupa semua jasanya yang mengantarkanku ke posisi saat ini.

Siapa aku tanpa dia yang berusaha keras menyekolahkanku hingga berhasil mendapat gelar Master. Siapa aku tanpa dia yang memberiku les bahasa ini itu hingga aku lancar berbahasa asing. Semua itu ia lakukan agar aku berhasil menggapai cita-cita. Semua ia lakukan meski harus bekerja siang malam tanpa lelah seorang diri.

Betapa tidak tahu terima kasihnya aku selama ini. Telpon-telponnya… Bahkan untuk menerima telponnya saja aku begitu sombong.

Lirih terdengar lagu Bunda dari Melly Goeslaw di radio mobil.

Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang

Nada nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Telah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Dan aku menangis semakin keras. Ibu, aku ingin menjawab telponmu lagi… Masihkah ada kesempatan itu walau hanya sekali?

1 year ago
0 notes

Orbit Yang Beda

Bumi kita sama
Di tanah gersang bernama pertiwi
Berjalan, tertatih, hingga terjatuh karena realita
Redam ego demi ubah diri

Langit kita sama birunya
Kanvas nyata gambar tak berbentuk
Lukisan hidup penuh warna
Sayang sketsaku berakhir buruk

Namun kamarmu penuh sekat
Kurung diri pasung hati
Pada kata yang menjerat
Buang rasa tuk hindari caci

1 year ago
0 notes